Senin, 22 November 2010

House of Raminten, Eksisnya Positioning Djawa Dalam Globalisasi

Hmm, mau cerita2 tentang pengalaman kuliner pas maen2 ke jogja..
Pas maen ke jogja, saya sempet maen ke House of Raminten atawa Omah Raminten dalam bahasa jawanya.. Kalo ga salah tempatnya deket Mirota, tapi Mirota yang mana saya kurang paham.. (biasalah, kan saya orang Solo..hehe). Dari luar, Warung Rumah Raminten terlihat megah dan djawani banget. Bentuknya joglo bertingkat dan ada kereta kuda di depan (dan ternyata saya sadar ada 4 kuda besar2 deket kamar mandi..). Ditambah ada musik klenengan jawa, aroma jawa sangat kental disana. Masuk ke dalam, saya disambut seorang cewek pake kemben dan berjarit. Sayangnya ceweknya ada yang seksi tapi ada yang kurang seksi,, hehehe.... Pertama saya mengira konsumen yang datang kesana cuma orang tua2, tapi setelah masuk jebul konsumen malah didominasi anak2 muda. Dengan perasaan rada was-was karena hanya bawa uang Rp. 65.000 (karena saya mengira harganya seperti coffe shop), saya naik ke atas duduk di lantai dua. Sayangnya disini pelayanannya rada lama, jadi kudu nunggu pramusaji menawarkan menu. But its ok...
Lanjut.. Saya mulai baca buku menu ada nama2 aneh...Prawan Tancep, Susu Perawan, Gajah Ndekem, Susu Putih Mulus, Maag, Masuk Angin, Migren, dll. Kebanyakan nama menu disana aneh, saru, dan saya ga mudeng isi minumannya. Dan setelah saya crosscheck ke pramusajinya, ternyata nama2 saru itu adalah JAMU !!.. Setaw saya jamu tu Cuma beras kencur, asem, brotowali, dll dan ga pernah denger nama jamu perawan bla..bla..bla.. Dan akhirnya saya pesen ‘’susu putih mulus’’, btw saya pesen karena tertarik dengan namanya.. Hehehehe.. (...jujur...). Selain itu harganya murah, dari harga 3000 s/d 10.000an.. murah sangat bukan ??!! (ni bukan promosi lho..)
Intinya, saya terkesan dengan Rumah Raminten, dimana bisa membalikkan pencitraan budaya jawa yang dianggap tidak menarik dan makanan2nya yang katanya tidak sesuai dengan iklim globalisasi... House of Raminten mencitrakan jawa baik dari makanan maupun interiornya dan masih bisa diterima pasar dengan sangat baik. Walaupun mungkin disana laris juga dikarenakan pluralnya masyarakat disana, akan tetapi menurut saya House of Raminten bisa eksis dengan melakukan differensiasi (dengan cara mempertahankan budaya jawanya) dalam kepungan restoran2 global saat ini.. Salut.. !

Kamis, 18 November 2010

Solo dan Positioning Budaya...


Budaya adalah hasil pemikiran masyarakat pada suatu daerah tertentu dan memiliki umur (usia) yang panjang. Budaya adalah keseluruhan sistem sosial masyarakat. Dan nilai-nilai budaya tercermin dalam setiap aspek kehidupan masyarakat.
Surakarta Hadiningrat, atau kita bisa sebut dengan Kota Solo merupakan salah satu kota di Indonesia dengan catatan sejarah yang panjang. Umur kota Solo sendiri sudah mencapai ratusan tahun dan di kota tersebut pernah berdiri beberapa kerajaan besar yang tercatat dalam berkas sejarah Indonesia, antara lain Kerajaan Pajang, Kerajaan Kartasura, Kerajaan Mataram Islam, dan Kerajaan Mangkunegaraan. Solo sendiri merupakan kota budaya, dan termasuk dalam Kota Warisan Dunia (World Haritage City).
 Walaupun demikian, pada tahun-tahun sebelumnya dalam bidang seni dan budaya, Kota Solo dianggap masih kalah dengan Bali dan Jogjakarta. Hal ini masuk akal, karena acara-acara bertemakan budaya di Kota Solo masih kalah banyak jika dibandingkan Bali dan Jogja. Ditambah jumlah penerbangan menuju Solo masih dirasa kurang dan masih minimnya promosi kebudayaan yang dilakukan oleh pemerintah kota untuk mempromosikan budaya Kota Solo.  Dari segi pencitraan sebagai kota budaya, kota Solo masih kalah dari kedua kota tersebut.
       Bukan rahasia  lagi bahwa kebudayaan di tiap daerah (Solo secara khusus)  sudah mulai bergeser ke kebudayaan asing. Banyak elemen masyarakat yang mulai meninggalkan budaya mereka sendiri yang sudah dibangun selama beratus-ratus tahun dan pindah ke kebudayaan asing yang mungkin sangat bertentangan dengan nilai-nilai kedaerahan dan nilai nasionalisme. Apakah masyarakat tersebut sudah melakukan kesalahan?  Siapa sih yang sepatutnya disalahkan ? Apakah masyarakat sebagai pemelihara nilai-nilai kebudayaan harus disalahkan dengan bergesernya nilai-nilai budaya tersebut ?
Tak kenal maka tak sayang”.  Mungkin peribahasa yang sering kita dengar dalam berbagai literatur Bahasa Indonesia. Peribahasa tersebut mungkin adalah cerminan dari sikap apatis dan ga mau tau dari  masyarakat saat ini terhadap budaya mereka sendiri. Jika melihat sikap cuek  dari masyarakat terhadap nilai-nilai kedaerahan sekarang ini, mungkin masyarakat tidak sepenuhnya salah, hal ini mungkin disebabkan tidak ada seseuatu yang membuat masyarakat aware dan interest terhadap hasil-hasil kebudayaan.
Beberapa waktu lalu di Kota ini pernah diadakan adanya pagelaran yang bertaraf Internasional, yaitu SIEM (Solo International Etnic Music) dan SIPA (Solo Intenational Performing Arts), dimana dalam acara tersebut menampilkan berbagai pertunjukan seni baik pertunjukan seni dalam negeri ataupun pertunjukkan seni luar negeri. Selain itu masih ada Solo Batik Carnival (SBC). Walaupun terkesan wah dan terkesan hanya mengandalkan acara yang berbudget  tinggi, akan tetapi acara-acara tersebut efektif meningkatkan citra Kota Solo sebagai Kota Budaya, mengenalkan Kota Solo kepada dunia luar dan meningkatkan kecintaan warga Solo akan budaya terutama budaya yang berasal dari Kota Solo dan Indonesia sendiri. Berbagai acara tersebut dirasa berhasil, hal ini mungkin dikarenakan masyarakat Indonesia masih gampang ”terprovokasi” oleh promosi besar-besaran yang dilakukan oleh pihak panitia penyelenggara, dan mungkin bukan karena isi dari acara tersebut. Tetapi, setidaknya acara-acara tersebut sudah berhasil membuat masyarakat aware akan keagungan dan keindahan kebudayaan mereka sendiri.
Walaupun jaman terus berjalan, isi (konten) dari suatu budaya tidak perlu diubah, akan tetapi cara menyajikan (konteks) budaya tersebut perlu sedikit diubah. Sekaligus dibutuhkan suatu peningkatan dan perbaikan infrastruktur sekaligus promosi dalam pengelolaan budaya. Peningkatan dan perbaikan infrastruktur bertujuan untuk menciptakan rasa nyaman dan aman bagi individu atau masyarakat yang ingin menikmati pertunjukan budaya. Sedangkan  promosi bertujuan untuk memperkuat pencitraan (positioning) Solo sebagai Kota Budaya
 Pencitraan budaya harus bersifat sustainable (berkelanjutan). Tidak hanya pagelaran-pagelaran yang bersifat high budget dan wah, tetapi budaya yang sudah ada, seperti pagelaran wayang orang, wayang kulit, klenengan, keraton, pusaka, batik, dan lain sebagainya perlu di citrakan ataupun dikelola dengan lebih baik lagi. Dimana tujuan utamanya adalah  untuk memposisikan  kembali Kota Solo sebagai Kota yang berbudaya. Sehingga, ketika pemerintah kota kita sukses dalam acara-acara yang berbudget tinggi, tidak  sepantaslah mereka meninggalkan berbagai event kebudayaan yang sudah ada seperti di atas. Pengelolaan kebudayaan harus bersifat sustainable dengan tujuan pencitraan yang ditimbulkan akan lebih baik lagi. Budaya adalah aset daerah, dimana jika budaya tersebut dilestarikan dan dikelola dengan baik maka budaya tersebut akan menambah pendapatan suatu daerah, dan bukan hanya sekedar ”tontonan” yang lambat laun akan hilang di telan jaman. Budaya adalah salah satu sumber ekonomi kreatif yang dapat menyumbangkan pendapatan bagi daerah.
Bayangkan, jika hasil budaya suatu daerah dapat dikelola dengan baik, dan hal tersebut dapat menarik wisatawan dan investor untuk dapat datang ke daerah tersebut. Bukan hanya masyarakatnya saja yang bangga dimana hasil kebudayaannya dapat dinikmati dan diapresiasi oleh masyarakat lain, tetapi hal itu juga dapat meningkatkan perekonomian daerah tersebut. Bukan hanya pemerintah daerah yang terbantu dengan bertambahnya kas daerah, tetapi juga seluruh aspek masyarakat, seperti penjual makanan, biro wisata, pengusaha hotel, penjual kerajinan, bahkan tukang becak dapat menikmati hasil pengelolaan kebudayaan tersebut.  Budaya adalah jawaban permasalahan dalam menghadapi krisis global. Budaya adalah sumber ekonomi kreatif yang tak pernah mati dalam suatu  masyarakat. Jangan sampai budaya-budaya tersebut malah diakui oleh negara lain dan negara lain tersebut mendapatkan keuntungan dengan mengambil alih budaya kita.
Pada akhirnya, dibutuhkan pengelolaan budaya yang baik dan profesional di Kota Solo dimana hal tersebut akan menciptakan suatu citra (positioning) bahwa Solo tidak kalah dari Kota-kota lain di Indonesia bahkan di dunia dalam pengelolaan budaya.  Pengelolaan budaya yang baik akan memperkuat  positioning Solo sebagai kota Budaya. Disisi lain, kecintaan akan budaya  akan menciptakan kecintaan terhadap negara dan meningkatkan rasa nasionalisme.

Film, Bencana, Pencitraan dan Media…..


Mungkin temen2 pernah nonton film “Wall Street, Money Never Sleep” yang disutradarai sama Oliver Stone dan dibintangi sama Shia LeBouf salah satunya.. walopun tu pelm menurut saya agak membingungkan awalnya,, tp sebenernya banyak seseuatu yang bisa diambil dr tu pelm.. (saya nonton tu pelm sambil jadi “obat nyamuk” 2 temen saya yg lagi pacaran… sebut saja Kumbang dan Mawar…hehehe)..tp intinya bukan dari saya jadi “obat nyamuk” 2 temen saya yg sedang pacaran, tp saya ingin menceritakan bagaimana peran suatu media bisa mempengaruhi dari kinerja suatu perusahaan,, disana diceritakan bagaimana pemilik perusahaan sampe bunuh diri gara2 nilai sahamnya jatuh gara2 pemberitaan di media.. uhh, ngeri…!
            3 hari lalu  saya baca status salah satu temen di FB, dia nulis kenapa sekarang orang2 cm ngomongin tentang gempa melawai dan tentu saja letusan gunung merapi (especially),, dan tidak ngomongin tentang gempa wasior yg sebelumnya terjadi..
Saya tidak mau sok social ato apa, tp kenapa tu media lbh concern sama namanya merapi???  Dan saya pikir bener juga ya.. kenapa gempa wasior yg menurut di berita2 (cm dibahas dikit) masih blm tertangani dengan baik, tp seolah dilupakan? (maaf, ini pandangan subyektif saya.. maaf kalo salah)..  mungkin..(mungkin lho ya..), orang lebih menyukai berita tentang merapi karna ada seseorang yang gugur karna “kejahatan” wedos gembel… Mbah Marijan,, yayaa,,, juru kunci merapi yang terkenal dengan slogan iklan minuman energi “roso-roso” telah berpulang gara2 “kejahatan” wedus gembel..
            Beberapa hari lalu di hari listrik nasional,, perusahaan tempat saya kerja melakukan suatu gerakan satu juta pemasangan… Berita2nya sampe masuk TV (walo saya cm litany di Metro TV,, mungkin gara2 saya ga punya TV di kos ya..hehehe), sampe2 beritanya dibuat secara eksklusif,, mungkin tu pemberitaan paling top utk menggugah awareness masyarakat ttg perusahaan saya kerja..  saya rasa kemungkinan perusahaan saya membuat tu program utk meningkatkan citra di masyarakat,, but my question is…. Buat apa sampe di tayangin exclusive?? Apa bener bisa meningkatkan pencitraan perusahaan?? Tapi Mungkin jika diikuti sama kinerja yang lebih baik dan pelayanan kemungkinan pasti bisa.. Peningkatan pelayanan pun terus meningkat. Apalg saya andil ikut di dalamnya…wakakakkaa…. (narcism,,).  Untung dirut saya seorang awak media.. hehehe…
            Kesimpulan dari 3 konteks diatas mungkin ya… media bisa jadi pahlawan, bisa jadi lawan,, bisa jadi seorang “salesperson” di masyarakat.. Mungkin kedepan, saya pgn bikin sebuah perusahaan media ya… siapa tau saya bisa jadi menteri..hahahaha…^_^v..Kekekekeke…..


Jakarta, 31 Oktober…di kos saya yang sempit dan panas..