Budaya adalah hasil pemikiran masyarakat pada suatu daerah tertentu dan memiliki umur (usia) yang panjang. Budaya adalah keseluruhan sistem sosial masyarakat. Dan nilai-nilai budaya tercermin dalam setiap aspek kehidupan masyarakat.
Surakarta Hadiningrat, atau kita bisa sebut dengan Kota Solo merupakan salah satu kota di Indonesia dengan catatan sejarah yang panjang. Umur kota Solo sendiri sudah mencapai ratusan tahun dan di kota tersebut pernah berdiri beberapa kerajaan besar yang tercatat dalam berkas sejarah Indonesia, antara lain Kerajaan Pajang, Kerajaan Kartasura, Kerajaan Mataram Islam, dan Kerajaan Mangkunegaraan. Solo sendiri merupakan kota budaya, dan termasuk dalam Kota Warisan Dunia (World Haritage City).
Walaupun demikian, pada tahun-tahun sebelumnya dalam bidang seni dan budaya, Kota Solo dianggap masih kalah dengan Bali dan Jogjakarta. Hal ini masuk akal, karena acara-acara bertemakan budaya di Kota Solo masih kalah banyak jika dibandingkan Bali dan Jogja. Ditambah jumlah penerbangan menuju Solo masih dirasa kurang dan masih minimnya promosi kebudayaan yang dilakukan oleh pemerintah kota untuk mempromosikan budaya Kota Solo. Dari segi pencitraan sebagai kota budaya, kota Solo masih kalah dari kedua kota tersebut.
Bukan rahasia lagi bahwa kebudayaan di tiap daerah (Solo secara khusus) sudah mulai bergeser ke kebudayaan asing. Banyak elemen masyarakat yang mulai meninggalkan budaya mereka sendiri yang sudah dibangun selama beratus-ratus tahun dan pindah ke kebudayaan asing yang mungkin sangat bertentangan dengan nilai-nilai kedaerahan dan nilai nasionalisme. Apakah masyarakat tersebut sudah melakukan kesalahan? Siapa sih yang sepatutnya disalahkan ? Apakah masyarakat sebagai pemelihara nilai-nilai kebudayaan harus disalahkan dengan bergesernya nilai-nilai budaya tersebut ?
”Tak kenal maka tak sayang”. Mungkin peribahasa yang sering kita dengar dalam berbagai literatur Bahasa Indonesia. Peribahasa tersebut mungkin adalah cerminan dari sikap apatis dan ga mau tau dari masyarakat saat ini terhadap budaya mereka sendiri. Jika melihat sikap cuek dari masyarakat terhadap nilai-nilai kedaerahan sekarang ini, mungkin masyarakat tidak sepenuhnya salah, hal ini mungkin disebabkan tidak ada seseuatu yang membuat masyarakat aware dan interest terhadap hasil-hasil kebudayaan.
Beberapa waktu lalu di Kota ini pernah diadakan adanya pagelaran yang bertaraf Internasional, yaitu SIEM (Solo International Etnic Music) dan SIPA (Solo Intenational Performing Arts), dimana dalam acara tersebut menampilkan berbagai pertunjukan seni baik pertunjukan seni dalam negeri ataupun pertunjukkan seni luar negeri. Selain itu masih ada Solo Batik Carnival (SBC). Walaupun terkesan wah dan terkesan hanya mengandalkan acara yang berbudget tinggi, akan tetapi acara-acara tersebut efektif meningkatkan citra Kota Solo sebagai Kota Budaya, mengenalkan Kota Solo kepada dunia luar dan meningkatkan kecintaan warga Solo akan budaya terutama budaya yang berasal dari Kota Solo dan Indonesia sendiri. Berbagai acara tersebut dirasa berhasil, hal ini mungkin dikarenakan masyarakat Indonesia masih gampang ”terprovokasi” oleh promosi besar-besaran yang dilakukan oleh pihak panitia penyelenggara, dan mungkin bukan karena isi dari acara tersebut. Tetapi, setidaknya acara-acara tersebut sudah berhasil membuat masyarakat aware akan keagungan dan keindahan kebudayaan mereka sendiri.
Walaupun jaman terus berjalan, isi (konten) dari suatu budaya tidak perlu diubah, akan tetapi cara menyajikan (konteks) budaya tersebut perlu sedikit diubah. Sekaligus dibutuhkan suatu peningkatan dan perbaikan infrastruktur sekaligus promosi dalam pengelolaan budaya. Peningkatan dan perbaikan infrastruktur bertujuan untuk menciptakan rasa nyaman dan aman bagi individu atau masyarakat yang ingin menikmati pertunjukan budaya. Sedangkan promosi bertujuan untuk memperkuat pencitraan (positioning) Solo sebagai Kota Budaya
Pencitraan budaya harus bersifat sustainable (berkelanjutan). Tidak hanya pagelaran-pagelaran yang bersifat high budget dan wah, tetapi budaya yang sudah ada, seperti pagelaran wayang orang, wayang kulit, klenengan, keraton, pusaka, batik, dan lain sebagainya perlu di citrakan ataupun dikelola dengan lebih baik lagi. Dimana tujuan utamanya adalah untuk memposisikan kembali Kota Solo sebagai Kota yang berbudaya. Sehingga, ketika pemerintah kota kita sukses dalam acara-acara yang berbudget tinggi, tidak sepantaslah mereka meninggalkan berbagai event kebudayaan yang sudah ada seperti di atas. Pengelolaan kebudayaan harus bersifat sustainable dengan tujuan pencitraan yang ditimbulkan akan lebih baik lagi. Budaya adalah aset daerah, dimana jika budaya tersebut dilestarikan dan dikelola dengan baik maka budaya tersebut akan menambah pendapatan suatu daerah, dan bukan hanya sekedar ”tontonan” yang lambat laun akan hilang di telan jaman. Budaya adalah salah satu sumber ekonomi kreatif yang dapat menyumbangkan pendapatan bagi daerah.
Bayangkan, jika hasil budaya suatu daerah dapat dikelola dengan baik, dan hal tersebut dapat menarik wisatawan dan investor untuk dapat datang ke daerah tersebut. Bukan hanya masyarakatnya saja yang bangga dimana hasil kebudayaannya dapat dinikmati dan diapresiasi oleh masyarakat lain, tetapi hal itu juga dapat meningkatkan perekonomian daerah tersebut. Bukan hanya pemerintah daerah yang terbantu dengan bertambahnya kas daerah, tetapi juga seluruh aspek masyarakat, seperti penjual makanan, biro wisata, pengusaha hotel, penjual kerajinan, bahkan tukang becak dapat menikmati hasil pengelolaan kebudayaan tersebut. Budaya adalah jawaban permasalahan dalam menghadapi krisis global. Budaya adalah sumber ekonomi kreatif yang tak pernah mati dalam suatu masyarakat. Jangan sampai budaya-budaya tersebut malah diakui oleh negara lain dan negara lain tersebut mendapatkan keuntungan dengan mengambil alih budaya kita.
Pada akhirnya, dibutuhkan pengelolaan budaya yang baik dan profesional di Kota Solo dimana hal tersebut akan menciptakan suatu citra (positioning) bahwa Solo tidak kalah dari Kota-kota lain di Indonesia bahkan di dunia dalam pengelolaan budaya. Pengelolaan budaya yang baik akan memperkuat positioning Solo sebagai kota Budaya. Disisi lain, kecintaan akan budaya akan menciptakan kecintaan terhadap negara dan meningkatkan rasa nasionalisme.