Alih-alih karena kerjaan udah selesai, saya buka-buka internet di kantor. Kemudian saya baca suatu web, http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/36-6-festival-khas-di-indonesia . Disana dijelaskan tentang festival di Indonesia yang menjadi “primadona” baik dalam maupun luar negeri. Tak disangka, ternyata 3 festival diantaranya adalah festival yang diselenggarakan di Kota saya yang tercinta, ya.. Kota Solo Hadiningrat. Kota tempat saya menghabiskan 18 tahun hidup saya..huhuhu. Kota yang damai, ga ada macet, jarang banjir, pusat kuliner murah dan enak, walo mungkin pasti ada kekurangan, tapi secara keseluruhan Solo kota yg menyenangkan (apalagi jika dibandingin sm kota saya kerja...huhuhu) T_T... Back to the topic,, Hmm, sebenernya dulu saya sudah memprediksi kalo usaha positioning Kota Solo dalam membangun brand “kota budaya” bisa berhasil asal sustainable (baca tulisan saya yang b’judul Solo dan Positioning Budaya). Dalam artian terus berkelanjutan, tidak asal “nyemplung metu”, keliatan tidak menarik, atau gagal lalu berhenti. Keberhasilan kota Solo dalam melakukan deferensiasi dalam konteks budaya (how to serve), analisis pasar (dimana warganya menyukai seseuatu yang rame dan “wah”), dan pemanfaatan teknologi informasi dan iklan (informasi semakin massive, akan semakin membuat orang tertarik). Ada seorang temen saya baru-baru ini ngomong kalo Solo mirip sama Vietnam sono,,kekekekekee... Aura budayanya kentel dan suasananya lebih menyenangkan dari
Mungkin ke depan, akan ada artikel yang membahas festival paling khas di Indonesia dimana mayoritas, atau hampir semua adalah festival dari Solo, asal potensi Solo bisa terus digali dan dikemas dengan cara yang berbeda. Wayang orang, Kuliner, pasar malem, adalah segelintir item yang bisa di kelola dengan lebih baik sehingga positioning budaya Solo bukan hanya judul tulisan saya saja,,, Hehehehehehe...... Miss u Solo...^_^